Wilayah Toba Barat adalah bagian besar dari Sumatera bagian utara yang membentang luas di pegunungan bukit barisan. Wilayah ini cukup luas dan berada di beberapa Kabupaten (Humbahas, Dairi, Pakpak Barat, Tapanuli Tengah dan Sibolga). Wilayah Toba Barat mempunyai hutan lindung sepanjang sisi barat Danau Toba, yang kaya dengan flora dan fauna serta tempat-tempat wisata yang indah.
Wilayah Toba Barat terdiri dari hutan lindung yang berbatasan yang luasnya kurang lebih 260.100 hektar. Berdasarkan pembagian geografis wilayah daerah tangkapan air (DTA) Toba Barat dibagi atas sembilan wilayah: wilayah pegunungan Salak, wilayah Barat Laut (Western Pakkat), Pakkat Utara (Northern Pakkat), Pakkat Timur laut (North East Pakkat), Pakkat Selatan (North West Pakkat), Sibolga, Sipirok dan Sibualbuali. Salah satu lokasi proyek yang dijalankan terletak di Kawasan Hutan di Kecamatan Pakkat dan Kecamatan Tarabintang.
Luas
Kawasan DAS Toba Barat membentang seluas 260,100 hektar yang terdiri dari hutan lindung yang berbatasan. Di dalamnya hanya 2 daerah yang benar-benar dilindungi total yaitu:
- Sidiangkat (14,019 Ha)
- Sicike-cike (4,080 Ha)
Sejarah
Kementerian Kehutanan mengeluarkan kebijakan soft land reform yang membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengelola kawasan hutan melalui konsep Hutan Kemasyarakatan (Hkm) atau Hutan Desa (HD). Hak kelola ini diharapkan dapat mengontrol pola pemanfaatan kawasan hutan oleh masyarakat, tanpa harus mengkonversi status kawasan.
Tipe Ekosistem
Di kawasan ini mengalir sungai Binanga Bolon, sungai Sigarang-garang, sungai Sisaetek, sungai Pollung, sungai Pancurbatu. Kelima aliran sungai ini bertemu di sungai Silang yang selanjutnya mengalir ke kecamatan Bakti Raja dan akhirnya bermuara di Danau Toba. Hampir semua sungai yang disebutkan di atas kondisinya semakin mengering. Akibat penebangan hutan yang masive juga berdampak terhadap penurunan debit air Danau Toba dan mengganggu kelancaran pembangkit listrik yang ada di kawasan danau.
Selain itu ada beberapa sungai lain yang debit airnya semakin sedikit yakni sungai Sibundong yang mengalir ke kecamatan Doloksanggul, Sijamapolang, dan Onanganjang; sungai Hirta mengalir ke kecamatan Pakkat, TaraBintang, Parlilitan, Onanganjang, Sijamapolang, Doloksanggul, dan Bakti Raja.
Perluasan lahan pertanian, penebangan liar dan perburuan satwa yang dilakukan oleh masyarakat secara terus menerus di kawasan hutan menyebabkan luas lahan hutan berkurang dan mengganggu kelestariannya. Ini juga mengakibatkan sering terjadi bencana alam dan masyarakat kehilangan sumber mata pencaharian. Tercatat tahun 2007 terjadi banjir bandang di Kecamatan Tarabintang Desa Siantar Sitanduk Dusun Rumbia yang menghanyutkan rumah warga dan menyapu lahan pertanian. Kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan dalam proyek ini akan berdampak langsung terhadap perlindungan hutan dan juga peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Flora
Sektor perkebunan sangat berpotensi di Kabupaten Humbang Hasundutan, khususnya kemenyan dengan luas sekitar 4.907 ha. Kemenyan merupakan tanaman endemik yang keberadaannya terancam punah. Hutan kemenyan banyak terdapat di hulu sungai-sungai meliputi sungai Binanga Bolon, sungai Sigarang-garang, sungai Sisaetek, sungai Pollung, sungai Pancurbatu.
Fauna
Kawasan hutan Humbang Hasundutan merupakan habitat dari setidaknya 10 jenis mamalia, 12 jenis burung, 7 jenis reptilia, dan 19 jenis vegetasi semak belukar. Berdasarkan status konservasinya, teridentifikasi 3 spesies mamalia, yakni Trenggiling (Hystrik brachyura), Kukang (Nycticebus kukang), Kucing Hutan (Felis Sp); 1 jenis burung, Tiung/Beo (Gracula religiosa), dan 2 jenis reptilia, Ular Pucuk (Achactulla prosina), Biawak (Veranus boneensis) yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999. Namun kondisinya saat ini terancam punah termasuk orangutan Sumatera (Pongo abelli), Beruang madu (Helarctos malayanus), Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatraensis).
Biota air yang terdapat di DTA Toba Barat merupakan jenis ikan endemik yang kini keberadaannya hampir punah yakni ikan Batak, terdiri dari 2 spesies yaitu Lissochilus Sumatranus dan Labeobarbus Soro.
Kawasan ini juga merupakan habitat alami beberapa spesies endemik seperti Orangutan Sumatera (Pongo abelii), Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan Serow (Capricornis sumatraensis).
Ancaman Utama
Dalam 25 tahun terakhir, sekitar 48% dari hutan Sumatera telah hilang sebagai akibat dari penebangan liar, pembangunan infrastruktur, migrasi dan pengembangan lahan perkebunan dan membawa kehancuran bagi keanekaragaman hayati yang ada (Laumonier et al., 2010; McConkey, 2005). Hutan Sumatera telah terfragmentasi dalam bentuk ‘pulau-pulau tutupan hutan’ yang terpisah-pisah sebagai bentuk konsekuensi pengembangan wilayah dan pembangunan. Salah satu blok hutan yang tersisa di Sumatera Utara dengan luasan yang cukup luas berada di wilayah Kabupaten Dairi (luas 192,782 ha) dan Pakpak Bharat (luas 121,830 ha) yang terletak tepat di sebelah barat (western) Danau Toba.
Wilayah Kabupaten Pakpak Bharat (PPB) hampir 80%-nya merupakan kawasan hutan, baik hutan lindung, hutan produksi, hutan produksi terbatas ataupun hutan konservasi. Sebagai wilayah pemekaran, Kabupaten Pakpak Bharat sedang berupaya meningkatkan pembangunan di wilayah administratifnya, dengan memanfaatkan sumberdaya hutan yang mereka miliki.