Hutan Ulu Masen – Seulawan terletak di Propinsi Aceh, di sebelah utara ekosistem Leuser, meliputi empat kabupaten – Aceh Besar, Aceh Barat, Aceh Jaya dan Pidie – dengan koordinat 4° 25.6’ 34” – 5° 4.4’ 21.3” LU dan 95° 21.3’ 20.3” – 96° 18.9’ 52.3” BT.
Luas
Kawasan Hutan Ulu Masen dan Seluas membentang seluas 1,393,500 hektar, terdiri dari dua kawasan konservasi, berdekatan dengan hutan lindung dan pemegang konsesi hutan non-aktif yang sekarang dibawah moratorium.
Tipe Ekosistem
Ekosistem Ulumasen termasuk kedalam empat wilayah, yaitu Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat dan Pidie. Area yang berhutan meliputi 7,000 km2 meliputi sejumlah tipe habitat, termasuk hutan Montana, hutan hujan dataran rendah, hutan rawa, dan di sebelah utara terdapat hutan karst.
Flora
Sampai saat ini survei flora di dalam Ulu Masen masih terbatas pada identifikasi jenis makanan kunci untuk gajah dan orangutan. Survei awal kawasan mengindikasikan adanya keanekaragaman hutan yang tinggi. Keanekaragaman ini disebabkan oleh geologi daerah yang kompleks, variasi rejim iklim, dan tingginya gradien. Survei mencatat 8,500 jenis tumbuhan berbeda, termasuk pohon Casuarina (Casuarina Sp.), Pala Liar (Myristica Spp.), Kapur barus (Drybalancops aromatica), Rotan (Calamus sp.), dan Pandan (Pandanus sp.), dan banyak Pometia pinnata tumbuh di sepanjang sungai. Banyak juga jenis lumut dan bunga hutan yang tumbuh termasuk gentian, primula dan arbei liar, dan anggrek liar. Rafflesia arnoldi, bunga yang paling besar di dunia dan Amorphophallus titanum, bunga paling tinggi di dunia, juga dapat dijumpai disini.
Fauna
Ekosistem Seulawah adalah rumah bagi berbagai jenis endemik dan langka, seperti Orangutan (Pongo Abelii) dan Monyet Thomas (Presbytis thomasi). Kedua jenis primate ini sering dianggap sebagai flagship species untuk indikator kondisi hutan yang masih baik. Kawasan Leuser-Ulumasen adalah tempat terakhir yang masih bagus kondisinya dan satu-satunya tempat di mana populasi Gajah Sumatran (Elephas maximus sumatranus), orangutan, harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) ditemukan bersama-sama. Kawasan ini juga adalah rumah bagi populasi tapir (Tapirus indicus), beruang madu (Helarctos malayanus), anjing hutan (Cuon alpinus), dan suatu komplemen yang lengkap tentang primata khas Sundaland Barat, termasuk ungko (Hylobates agilis), dan siamang (Symphalangus syndactylus).
Kekayaan biota yang luar biasa tinggi, dengan lebih dari 1,000 jenis hewan bertulang belakang, ribuan jenis tumbuhan, dan suatu jumlah yang tak dikenal tetapi sangat besar (bisa mencapai ratusan ribu) jenis hewan tak bertulang belakang menjadikan kawasan ini sempurna dan ideal untuk rekreasi, pendidikan dan penelitian dasar maupun terapan.
Jumlah jenis untuk Ulu Masen mungkin dapat diperbandingkan dengan ekosistem Leuser, dimana lebih dari 700 jenis hewan bertulang belakang telah direkam, mencakup 320 burung-burung, 176 binatang menyusui dan 194 binatang melata dan binatang ampibi. Ulumasen juga merupakan rumah bagi sekitar 4 persen dari semua jenis burung yang dikenal di seluruh dunia dan jenis burung yang kondisinya terancam antara lain Burung kuau Argus (Argusianus argus) dan Burung enggang Badak (Bucerosrhinoceros).
Wilayah ini merupakan kantong habitat satwa liar (khususnya Gajah Sumatera, Orangutan, Badak Sumatra). Di kawasan ini pula ditemukan tingginya jumlah konflik satwa liar dan manusia. Dalam kurun waktu 2012 – 2014 tercatat 22 kasus kematian Gajah Sumatera.10 Kasus mencolok terkait kepemilikan satwa liar tidak sah (berbagai spesies dilindungi, termasuk Orang utan) ada di Aceh Selatan pada tahun 2013. Walhi/WWF mencatat selama tahun 2003- 2004 masih terdapat 600-800 ekor Gajah Sumatera, tapi jumlah ini menurun menjadi kurang lebih 400 ekor saja di tahun 2014.
Ancaman Utama
Hutan Pusaka Seulawah telah lama mengalami permasalahan terkait dengan perambahan, pembalakan liar, perburuan liar, pemukiman transmigrasi, dan konversi lahan untuk kepentingan pertanian dan dan pengembangan wilayah. Hutan Aceh kaya akan pohon kayu keras tropis seperti semaram, merbau, kruing, dan meranti, yang sangat mahal baik untuk pasar dalam negeri maupun pasar internasional. Secara bisnis tentu saja hal ini sangat menguntungkan. Konversi area berhutan untuk pengembangan wilayah seperti jalan dan infrastruktur lain, dan tanaman perkebunan adalah faktor yang utama mendorong penebangan hutan dan mengakibatkan fragmentasi. Jelas bahwa kerusakan habitat dan fragmentasi adalah ancaman yang utama bagi keanekaragaman hayati, terutama sekali bagi mega-fauna yang memerlukan area yang luas.