Kawasan Prioritas

Kawasan Tangkapan Air Toba Barat

Tangkapan Air Toba Barat adalah wilayah daratan di sekitar Danau Toba yang memiliki peranan penting dalam menjaga pasokan air bagi danau terbesar di Indonesia tersebut. Kawasan DAS Toba Barat membentang seluas 260,100 hektar yang terdiri dari hutan lindung yang berbatasan.  Di dalamnya hanya 2 daerah yang benar-benar dilindungi total yaitu: Sidiangkat (14,019 Ha) dan Sicike-cike (4,080 Ha).

Kawasan ini berfungsi sebagai daerah resapan dan penyangga alami yang memastikan kualitas serta kuantitas air di Danau Toba tetap terjaga. Namun, kajian konservasi yang dilakukan pada tahun 2022 menunjukkan bahwa wilayah tangkapan air ini menghadapi tekanan serius berupa lahan kritis yang mencapai sekitar 228.000 hektare. Kondisi ini menjadi ancaman nyata karena lahan kritis berpotensi meningkatkan erosi dan sedimentasi, yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas air dan mempercepat pendangkalan danau.
Untuk mengatasi masalah tersebut, berbagai upaya pemulihan dilakukan melalui program jangka panjang yang berfokus pada rehabilitasi lahan dan peningkatan tutupan vegetasi. Salah satu inisiatif penting datang dari PT Inalum, yang sejak 2018 telah menjalankan program penanaman pohon di berbagai kabupaten sekitar Danau Toba, seperti Toba, Dairi, Karo, Humbang Hasundutan, Samosir, Simalungun, dan Tapanuli Utara. Program ini dirancang untuk menanam sekitar 500 hektare setiap tahun sebagai langkah sistematis dalam memulihkan lahan yang rusak.

Di kawasan ini mengalir sungai Binanga Bolon, sungai  Sigarang-garang, sungai Sisaetek, sungai Pollung, sungai Pancurbatu.   Kelima aliran sungai ini bertemu di sungai Silang yang selanjutnya mengalir ke kecamatan Bakti Raja dan akhirnya bermuara di Danau Toba. Hampir semua sungai yang disebutkan di atas kondisinya semakin mengering. Akibat penebangan hutan yang masif juga berdampak terhadap penurunan debit air Danau Toba dan mengganggu kelancaran pembangkit listrik yang ada di kawasan danau.
Selain itu ada beberapa sungai lain yang debit airnya semakin sedikit yakni sungai Sibundong yang mengalir ke kecamatan Doloksanggul, Sijamapolang, dan Onanganjang;  sungai Hirta mengalir ke kecamatan Pakkat, TaraBintang, Parlilitan, Onanganjang, Sijamapolang, Doloksanggul, dan Bakti Raja.

Perluasan lahan pertanian, penebangan liar dan perburuan satwa yang dilakukan oleh masyarakat secara terus menerus di kawasan hutan menyebabkan luas lahan hutan berkurang dan mengganggu kelestariannya. Ini juga mengakibatkan sering terjadi bencana alam dan masyarakat kehilangan sumber mata pencaharian. Tercatat tahun 2007 terjadi banjir bandang di Kecamatan Tarabintang Desa Siantar Sitanduk Dusun Rumbia yang menghanyutkan rumah warga dan menyapu lahan pertanian. Kegiatan-kegiatan yang  akan dilakukan dalam proyek ini akan berdampak langsung terhadap perlindungan hutan dan juga peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Pemilihan jenis tanaman juga dilakukan dengan mempertimbangkan kesesuaian lahan dan manfaat ekologis, sehingga pohon yang ditanam mampu menahan erosi, meningkatkan infiltrasi air, dan menambah tutupan hijau secara efektif. Melalui rehabilitasi yang berkelanjutan dan pengelolaan yang tepat, Tangkapan Air Toba Barat diharapkan dapat kembali berfungsi optimal sebagai penjaga keseimbangan ekosistem Danau Toba serta memastikan bahwa sumber daya

Bagikan
Scroll to Top